Bagian-3: Pernikahan

Kisah Sebelumnya pada Bagian-2
____________________________

Rumah Sakit Metropolis, 24:00 WIB
Setelah bertanya pada petugas, Rendra dan Tiara menyusuri lorong yang di satu sisinya adalan ruangan-ruangan berlebel.
“Kamu yakin kita di arah yang benar?” tanya Tiara sembari menyamakan langkahnya dengan Rendra. Pria yang satu langkah di depannya hanya mengangguk. Namun tiba-tiba Rendra berhenti dan segera meraih tangan Tiara, mengenggamnya, lalu kembali mempercepat langkahnya.
“Itu Bunda Yuna!” tunjuk Rendra, setengah berlari keduanya menghampiri Yuna yang terlihat pucat dan sangat khawatir. “Maaf Bund, kami datang kemari secepatnya,” kata Rendra ketika mereka sudah dekat.
“Terima kasih sudah datang,” jawab Yuna dengan tatapan kosong.
Tiara meraih pundak wanita yang seusia ibunya itu dari samping, menepuknya beberapa kali dengan lembut. “Daru pasti bisa bertahan.”
Yuna tak kuasa berkata apapun, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara tangisnya tidak terdengar. Yuna tergugu dalam pelukan Tiara. Sementara Rendra mendekati ruang kaca bertuliskan IGD[1]). Dari tempatnya berdiri Rendra melihat bagaimana tim medis sedang melakukan tindakan penyelamatan pada sahabatnya.

Enam bulan yang lalu, Metropolis Park
            “Selamat!”
“Terima kasih.”
“Ach, akhirnya kamu menikah juga,” ucap Rendra disambut dengan pelukan hangat.
            “Kamu bisa saja,” Daru tertawa lepas.
            “Selamat ya Daru,” potong seorang gadis yang berdiri di samping Rendra
            “Ooo… Lihatlah si-cantik Tiara. Kamu selalu membuatku terpesona,” seru Daru. Sejenak Daru melepaskan pelukannya dari Rendra, kemudian ia mundur satu langkah, kedua tangannya terentang, matanya berbinar mengagumi keelokan paras Tiara yang putih bersih dibalut gaun merah dusty senada dengan pemerah bibirnya. “Dirimu selalu menawan,” lanjut Daru.
            “Hentikan kelakarmu! Dimana istrimu?” tukas Tiara.
            “Tunggu sebentar.”
Pandangan Daru berkeliling ke penjuru taman tempat ia mengadakan resepsi pernikahannya. Tidak sulit baginya menemukan sosok bundanya diantara para tamu yang merupakan tetangga dan teman dekatnya. Daru melambaikan tangan saat ia melihat bundanya melihat ke arahnya. Buru-buru wanita tersebut mengapit seorang wanita bergaun putih gading dengan pita besar dipinggul kirinya. Dengan senyum lebar ibunda Daru menyapa sahabat putranya.
“Rupanya kalian disini.”
“Bunda, sehat kan?” Rendra menyambut dengan pelukan diikuti ciuman pada kedua pipi wanita tersebut.
“Alhamdulillah. Kapan kamu menikahi Tiara?” tanya sang bunda dengan mata berbinar. Diikuti senyum dan tawa untuk mengusir kecanggungan yang terjadi sesaat. Selanjutnya Tiara yang ganti memeluk dan mencium pipi ibunda Daru.
“Salma, kemarilah! Ini Rendra sahabat Daru. Ia sudah seperti putra ibu sendiri.”
“Senang bertemu denganmu Salma,” Rendra menyorongkan badannya hendak memeluk Salma. Namun Salma justru mundur menghindari pelukan Rendra, sambari menangkupkan kedua tangannya.
“Maaf. Senang berjumpa denganmu, mas Rendra,” sapa Salma.
Sekejap Rendra terkesima menatap Salma. Mungkin karena kesederhanaan penampilannya sebagai seorang pengantin, sebeb tidak seperti umumnya mempelai wanita yang memakai riasan tebal. Wajah Salma hanya dipulas tipis, sedikit blash-on dan lipstick berwarna teduh, sedang alisnya hitam membentuk garis yang natural tanpa sentuhan ahli kecantikan.
“Ia bukan wanita Millenia,” bisik Daru sambil menepuk bahu Rendra.
“Begitukah,” sahut Rendra yang menjadi kikuk karena tertangkap basah karena sikap kurang sopannya yang memandangi istri sahabatnya.
Daru memeluk Pundak Rendra, mengoyangnya beberapa kali seolah berkata bahwa yang barusan dilakukansahabatnya tidak membuatnya marah.
“Dan gadis jelita ini, Tiara. Achhh… kenapa kalian tidak segera menikah saja, sehingga wanita tua ini bisa memiliki dua menantu yang cantik,” keluh sang bunda sekali lagi.
Tiara dan Salma saling berpelukan dan saling bertukar sapa berikut senyum.
“Semoga menjadi pasangan yang bahagia ya Salma,” ucap Tiara.
“Terima kasih. Sebaliknya, semoga dirimu segera resmi menjadi Nyonya Rendra.” Balas Salma.
Selanjutnya Tiara meraih tangan Salma. Sambil melirik Daru, Tiara berkata,”Asal kamu tahu, kamu mempelai pria yang beruntung.”
“Kurasa itu kode buatmu Ren. Benar khan Ra?” Daru menyenggol perut Rendra dengan sikunya.
“Ayolah, itu hal sensitif. Kurasa kurang tepat jika kita membicarakannya di saat yang berbahagia seperti ini,” kelit Rendra.
“Emmm…. Rendra… Rendra. kenapa putra bunda yang satu ini sulit sekali untuk menurut,” omel sang Bunda, justru membuat semua orang tertawa. “Kalian berdua nikmati hidangan yang ada dulu ya. Daru dan Salma ikut bunda, ada beberapa tamu yang harus kalian sapa.”
Rendra dan Tiara belum bergeming dari tempatnya berdiri. Keduanya masih terus mengawasi pasangan pengantin baru yang sibuk menyapa para tamu.
“Dunia benar-benar kecil. Siapa yang menyangka bisa bertemu disini,” desis Rendra.
“Siapa?” selidik Tiara.
“O, bukan siapa-siapa. Hanya berilustrasi saja bahwa kita dan semua yang hadir adalah potongan puzzle dari bidak yang berbeda-beda. Hebatnya potongan-potongan puzzle tersebut berusaha menyesuaikan dengan bidak yang baru tidak perduli awalnya mereka berasal dari mana, kemudian tersusun sehingga membentuk warna, harmonisasi, suasana dan nuansa. Indah bukan Ra?,” terang Rendra.
“Aku juga sedang berilustrasi,” jawab Tiara tidak mau kalah.
“Emmm, pasti sesuatu yang impulsif,” terka Rendra.
“Bisa jadi,” timpal Tiara.
“Aku penasaran,” lanjut Rendra.
“Sebentar saja, tapi rasanya menyenangkan,” goda Tiara.
“Sebaiknya tidak dikatakan,” tolak Rendra.
“Andai aku yang berjalan disampingnya. Kemudian mengapit lengannya dengan rapat sembari menghirup wangi tubuhnya dan sesekali kepalaku bersandar manja di bahu mempelai pria yang hari ini terlihat sangat sempurna,” seloroh Tiara.
“Isssshhhh. Kamu membuatku mual,” seru Rendra. Sejurus pandangan Rendra tertuju pada Daru lalu beralih pada kekasinya.  “Kamu tidak serius khan?”
“Sayangnya nasibku terdampar dalam pelukanmu.” keluh Tiara membuat Rendra terbahak-bahak.
“Baiklah! akan kuambilkan minuman dingin untukmu. Jangan pergi kemana-mana!” kata Rendra seraya mengecup pipi kekasihnya. Tiara tersenyum puas.

**

Penulis: Wedhya Wardani



Catatan

 RUANG
IGD (Instalasi Gawat Darurat):

Tempat dimana tenaga kesehatan menangani pasien yang sedang dalam kondisi 
gawat dan darurat 
agar segera ditolong atau mendapat penanganan sesegera mungkin.


***
Terima Kasih telah membaca "Kersen"
Semoga makin Terkesan
^_^

___________________________
Kisah Selanjutnya pada Bagian-4



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-5: Classic Trap

Bagian-4: Ruang Tunggu

Bagian-1: Perjodohan