Bagian-2: Bunga-bunga Kersen di hati Salma
Kisah sebelumnya pada Bagian-1
_______________
Metropolis, Pukul 23:30 WIB
Salma termenung di satu sudut
ruangan berteralis besi. Pandangannya bertumpu pada satu titik. Kekosongan.
Wajahnya sembab oleh air mata. Ia merasa dirinya seperti tempayan tanpa isi. Anak
buah kapal yang dilepar keluar dari perahu atau pengembara yang kehilangan
tujuan. Dalam sekejap baktinya sebagai seorang istri dan perasaan sayang pada
ibu mertuanya telah membuatnya terperosok dalam ketidakberdayaan dalam memilih.
Sekali
ia menyeka isaknya yang hilang di telan heningnya malam. Dari arah luar sesekali
Salma mendengar tiang yang dipukul. Suara besi yang beradu terdengar nyaring,
menyelusup ke seluruh penjuru. Waktu terus bergerak namun bagi Salma waktunya
telah berhenti. Salma meringkuk, ia mencoba memejamkan mata, akan tetapi justru awal
semua kisah hidupnya bermula menjadi terbayang dengan jelas.
Tujuh bulan yang lalu, di Perkebunan Kersen
Manakala
tangkai telah cukup kuat, kuncup bungapun mulai terlihat. Kemudian satu demi
satu kelopaknya mekar, memamerkan keindahan mahkota yang dimilikinya, yang
membuat sekawanan serangga berdatangan mengincar tepung sarinya.
“Berhasil! Kita menangkap seekor lagi kak!”
teriak Santi memamerkan serangga bersayap indah yang terperangkap di dalam
jaring.
Salma melambai sambil mengacungkan jempol. “Bawalah
kemari!”
Santi dan Daru menghampiri Salma yang duduk
di bawah pohon kersen. Cabang-cabang pohonnya yang rimbun dengan daun berbentuk
lonjong bergerigi cukup meneduhinya dari terik matahari yang baru saja
tergelincir ke barat.
“Istirahatlah sebentar. Kalian sudah
menangkap 2 ekor,” kata Salma saat Santi dengan hati-hati memindahkan kupu-kupu
ke dalam kotak yang kerangkanya terbuat dari kayu sedang penutupnya dari kawat
ayam.
“Aku sudah berjanji akan membawa lebih banyak
dari yang lain,” tolak Santi.
“Memang banyak-banyak buat apa dik?” tanya
Daru.
“Emm…” Kali ini kedua mata santi melihat ke
atas. Berfikir keras sebelum menjawab
pertanyaan calon kakak iparnya yang telah bersedia membantunya menangkap serangga.
“Untuk diteliti,” celetuk Santi sambil tersenyum lebar.
“Lebih tepatnya, untuk diawetkan,” sahut
Salma memperjelas. “Gayamu dik, seperti ilmuwan saja!” ledek Salma.
“Kak Salma terlalu meremehkanku,” protes
Santi sambil cemberut membuat kedua pipinya mengembung dan menyipitkan matanya.
“Ilmuwan kok matanya segaris,” lanjut Salma
kembali menggoda adiknya.
“Tidak mengapa, yang penting ilmuwan,” balas
Santi sambil berlari. Kali ini ia memburu seekor kupu-kupu bersayap kuning
sendirian. Meninggalkan Salma dan Daru yang mulai akrab satu dengan yang
lainnya.
“Kudengar kamu suka sekali dengan buah kersen?”
tanya Daru sambil memperhatikan dahan yang ada di atasnya.
“Itu yang berwarna merah, kamu bisa
mengambilnya!” tunjuk Salma. Daru beranjak dari duduknya dan berdiri diatas bangku
bambu, menarik ujung dahan agar lebih rendah dan memetik dua buah yang berwarna
merah cerah.
Dengan riang Salma mengambil satu dari tangan
Daru, mengelap dengan jarinya, lalu dengan cepat mengulumnya di mulut.
“Manis!” teriak Salma. “Cobalah!”
“Aku?” tanya Daru bingung “Tidak. Buatmu saja.”
Daru menyodorkannya ke arah Salma. Daru
“Cobalah!” paksa Salma. Daru tetap
menggeleng. Tanpa mereka sadari dari arah berlawanan Santi muncul, mengambil
kersen dari tangan Daru. Sedetik kemudian, buah mungil itu sudah lenyap
tertelan.
“Carilah yang banyak kak Daru!” rengek Santi.
”Buaaaanyyaakk,” ulangnya
“Itu ringan, Aku akan mencarikan untukmu. Jika
perlu aku petik semua buahnya dan semuanya hanya untuk Santi. Bagaimana?”
“Yeachhhhh! Setuju sekali,” sorak Santi
dengan berbinar.
“Syaratnya, asal kakak Salma diijinkan tinggal
di rumahku,” usul Daru sambil melirik Salma.
Ekor mata Santi berkerling ke arah Salma yang
pura-pura tidak mendengar percakapan keduanya. “Maksudnya, kak Salma akan pergi
seperti saat kuliah di luar kota-kah?” tanya Santi. “Hanya sekali waktu pulang?”
lanjut Santi.
“Benar sekali gadis ilmuwan,” goda Daru. Diikuti
derai tawa Santi dan Salma.
Ketiganya berhenti tertawa saat melihat bibi
melambai ke arah mereka agar segera kembali ke rumah.
“Waktunya kudapan!” teriak Santi yang dengan
ringan berlari mendahului dua sejoli yang sedang menata hati.
“Boleh kutahu jawabanmu?” tanya Daru menahan
langkah Salma.
“Bibit saja butuh waktu untuk bertunas. Jadi…”
jawab Salma.
“Aku tidak tahu ilmu pertanian. Namun aku
paham bila semuanya membutuhkan waktu dan proses beradaptasi. Kufikir kita bisa
lakukan itu setelah menikah,” jelas Daru.
“Apakah kamu sedang diburu sesuatu? Sehingga
mendesakku untuk menikahimu dengan segera?” tanya Salma.
“Ya”.
“Boleh kutahu?”
“Nafsu dan Zina,” jawab Daru.
Jawaban Daru sangat luar biasa di mata Salma,
untuk pertama kalinya ia jumpai ada pria yang sedemikian realistis. Karena umumnya
pria yang diperkenalkan padanya, memuji paras, kepandaian atau kepiawaiannya
dalam mengelola bisnis pertanian orang tuanya. Daru telah berhasil merebut simpati
di hati Salma. Mendorong Salma untuk mengenal Daru lebih dekat lagi.
“Seperti yang kamu katakan kemarin, dalam
hati seseorang terdapat banyak pintu.”
“Benar,” sahut Daru.
“Aku belum tahu pintu yang mana akan kubuka
untukmu.”
“Pintu manapun boleh.”
“Kamu yakin?” tanya Salma meragukan jawaban Daru.
“Tentu. Aku yakin dengan yang kukatakan.
Namun aku tidak bisa memaksa dirimu seyakin aku.” Jelas Daru. Sejenak ia
mencuri pandangan pada Salma yang masih menanti kelanjutan kata-katanya. “Sama halnya
dengan perasaan. Aku tidak mampu memaksamu dan tidak akan memaksamu untuk membuka
pintu yang sama seperti yang kubuka saat ini,” lanjut Daru.
“Jadi…”
“Cukup aku saja yang membuka pintu untukmu,” kata
Daru.
“Bukankah itu berarti sepihak?”
“Wanita tidak perlu terlalu banyak mencintai,
karena nanti bisa melukainya. Cukup aku saja yang mencintaimu,” bisik Daru.
Kata-kata Daru berhembus ringan di telinga
Salma, membawa kuntum-kuntum bunga kersen yang selanjutnya bermekaran di hati gadis
berkerudung peach. Untuk beberapa saat Salma terdiam, ia tidak punya
kata yang tepat untuk melanjutkan pembicaraannya bersama Daru. Sebentar Salma
mengigit bibirnya saat Daru selangkah mendekatinya.
“Kurasa kita harus segera pulang,” ajak Salma
memecah kecanggungan diantara keduanya.
“Tentu. Semua orang pastinya sudah menunggu
kita,” jawab Daru.
Daru meraih kotak kayu tugas sekolah Santi. Sementara
Salma mengekorinya dari belakang. Kira-kira setengah perjalanan Daru berhenti
dan berbalik menghalangi langkah Salma. Jarak mereka cukup dekat sehingga bisa saling
merasakan tarikan nafas lawan bicaranya. Sejenak Daru menatap mata Salma yang hitam
kecoklatan, lalu berbisik.
“Aku ingin kamu terus mengikutiku, agar kamu
bisa membuka pintu yang sama denganku.”
**
Penulis: Wedhya Wardani
Monolog
CINTA
Manakala didekati Nafsu (Zina) => Haram + Dosa
Ketika ia dipersunting Pernikahan => Halal + Ibadah
Buat yang Single Fisabilillah (Gadis/Perjaka/Janda/Duda)
Semoga kesendiriannya segera berakhir
yakni dipertemukan dengan pasangan yang kaffah
***
Terima kasih sudah membaca "Kersen"
Komentar
Posting Komentar