Bagian-4: Ruang Tunggu
Kisah Sebelumnya pada Bagian-3
____________________________
Rumah Sakit Metropolis, dini hari
Rendra
termaggu sendiri di ruang tunggu. Segelas kopi yang baru diteguknya sekali, sudah
menjadi dingin sejak dua jam yang lalu. Sejenak ia menengadahkan kepala untuk
melihat ke sekililingnya. Aktifitas Rumah Sakit sudah surut, malah terkesan lengang hanya tinggal beberapa keluarga pasien yang masih berjaga berikut serang petugas yang duduk di meja informasi.
Rendra
melirik jam tangannya dan baru akan berdiri saat dilihatnya seorang petugas
kebersihan mulai menuju ke arahnya. Ia merapatkan resleting jaketnya sebelum
berjalan menuju ruangan dimana Daru dirawat.
“Kamu
pacarnya?” tanya seorang petugas jaga yang datang dari arah berlawanan.
Untuk sesaat Rendra diam dan melonggo. Rendra menggaruk kepalanya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri mungkin saja petugas tersebut bertanya pada orang lain. Sementara sang penjaga membulatkan matanya, menunggu pertanyaannya yang belum dijawab.
“O,
maaf. Saya teman dari salah satu pasien yang sedang dirawat,” terang Rendra.
“Teman dekat?” lanjut si petugas mengubah pertanyaannya.
"Kira-kira demikian," jawab Rendra.
"Jaman sekarang aneh, pacar bukan, teman dekat iya, apa bedanya?" desis petugas jaga sambil berlalu meninggalkan Rendra yang makin bingung dengan yang didengarnya.
“Issss,
Apa ia berfikir aku pria dengan kelainan seksual? Pacar? Isss,” gerutu Rendra
“Dasar badut berseragam! Bisanya ia menganggapku demikian,”
Tiga Tahun yang lalu, tengah semester ke-8
“Kalian tidak sedang pacarankan?”
selidik Tantri seorang asisten Dosen yang baru diangkat. Membuat Rendra dan Daru
beradu pandang.
Semuanya
berawal saat Rendra mendapat khabar dari orang tuanya yang sedianya mereka sudah
tidak mampu lagi mendukung kebutuhan finansial dirinya. Bisnis keluarga mengalami
masa-masa sulit, hutang di bank menumpuk, belum lagi pada pihak-pihak lain
seperti pemasok termasuk rentenir.
Di
tengah kebingungan Rendra antara membantu keluarganya lepas dari krisis atau
tetap menyelesaikan studinya, Daru datang sebagai penyelemat. Lewat bantuan beberapa teman akhirnya Rendra mendapat pekerjaan dengan gaji yang memadai di perushaan milik
keluarga Daru. Seiring waktu ketika Rendra lebih dulu menyelesaikan studinya, selanjutnya
ia menjadi mentor bagi Daru. Demikian kisah pertemanan mereka semakin karib hari demi hari membuat keduanya seolah terikat satu dengan lainnya.
“Jika kamu penasaran, pilih saja
salah satu dari kami untuk dijadikan pacar,” tantang Rendra.
“Kamu yakin dra, mau pacaran
dengannya?” bisik Daru.
“Em…. Ia hanya galak di luarnya,
dalamnya selembut ice cream,” bisik Rendra, cukup jelas didengar oleh Tantri.
Membuat
Tantri geram.”Yang satu anak mama, yang lain tebar pesona,” seru Tantri
melengos.
“Hey!
Non! Kamu yang mulai lebih dulu. Selain itu tidak ada kaitan dengan hal yang
ingin kami bahas denganmu!” Teriak Rendra. “Tunggu! Jika kamu suka salah satu
dari kami, kasih tahu aja!” lanjut Rendra membuat Tantri malu.Karena suara
Rendra yang sengaja dikeraskan telah mengundang perhatian banyak orang yang ada
disekitar mereka. Gadis itu segera berjalan dengan cepat meninggalkan keduanya.
Rendra sudah akan mengejar Tantri
namun Daru menahannya. “Tunggu dra! Apa yang membuatmu menyukainya?” tanya Daru
serius.
“Kamu naif sekali. Apakah kamu tidak
bisa melihat gadis itu memiliki banyak tiket.”
“Maksudnya?”
“Wajahnya termasuk cantik, mahasiswa
terbaik di bidangnya, baru saja ia diangkat menjadi Assisten Dosen, belum lagi
Bapaknya yang memiliki perusahaan jasa pengiriman barang, sedangkan Ibunya bekerja
di salah satu kementrian dan bisa dipastikan kolega mereka cukup lumayan,” terang
Rendra antusias.
“Jika demikian kejarlah!” seru Daru
tidak perduli.
“Dengar! Justru aku berharap kamulah
yang mengejarnya! Kamu yang lebih membutuhkannya. Nilai-nilaimu boleh dibilang
‘mepet’. Jika sampai tidak lulus, bundamu pasti mencekikku,” keluh Rendra.
“Walau demikian aku tidak akan
menghalalkan segala cara untuk lulus! Jika pada saatnya aku tertarik pada seorang gadis,
tentu karena aku menyukainya, bukan karena motif
lain,” jelas Daru.
“Kita lihat nanti ya bung!” Rendra
menepuk bahu Daru. “Karena jika kamu dalam
kondisi yang tidak menguntungkan, aku tidak yakin kamu akan tetap berkata
demikian,” cibir Rendra.
“Kamu ingin kita bertaruh dra?”
“NO!” tolak Rendra.
"Aku bersunguh-sungguh," seru Daru
"Jika demikian aku harap suatu hari kamu berada pada kondisi itu," jawab Rendra yang berlenggang meninggalkan areal parkiran diikuti
Daru.
**
Penulis: Wedhya Wardani
Monolog
MULUTMU SRIGALAMU
Kata-kata ibarat doa,
namun banyak dari kita yang sering meremehkan kata-kata.
Tidak jarang ada yang membuat sumpah atas hal yang tidak perlu.
dan
Manakala yang diucapkan terjadi, yang muncul keluhan berikut sesal
Karenanya katakan sesuatu yang baik-baik saja
Apabila keluar kata-kata buruk bersegera untuk beristigfar
***
Terima Kasih telah membaca "Kersen"
^_^
________________________
Kisah selanjutnya pada Bagian-5
Komentar
Posting Komentar