Postingan

Bagian-5: Classic Trap

Kisah sebelumnya pada  Bagian-5 ____________________________ Rumah Sakit Central Metropolis             Pagi-pagi Tiara sudah tiba di Rumah Sakit dengan membawa beberapa barang pribadi milik kekasihnya yang menginap di RS untuk menjaga sahabatnya.             “Aku mau ke toilet, sekalian ke kantin. Kamu ingin kubelikan sesuatu untuk sarapan?” tanya Rendra.             “Sesuatu yang ringan dan hangat,” jawab Tiara.             “Baiklah! Kamu disini jaga Daru.” Tiara tersenyum penuh cinta. Senyumnya terus mengembang sampai Rendra menghilang di tikungan, baru kemudian perhatiannya kembali pada Daru yang masih terbaring sama seperti semalam saat ia pulang. Apabila mendengar kronologi kejadian dari sopir, Tiara merasa ngeri membayangkan apa yang telah t...

Bagian-4: Ruang Tunggu

Kisah Sebelumnya pada  Bagian-3 ____________________________ Rumah Sakit Metropolis, dini hari Rendra termaggu sendiri di ruang tunggu. Segelas kopi yang baru diteguknya sekali, sudah menjadi dingin sejak dua jam yang lalu. Sejenak ia menengadahkan kepala untuk melihat ke sekililingnya. Aktifitas Rumah Sakit sudah surut, malah terkesan lengang hanya tinggal beberapa keluarga pasien yang masih berjaga berikut serang petugas yang duduk di meja informasi. Rendra melirik jam tangannya dan baru akan berdiri saat dilihatnya seorang petugas kebersihan mulai menuju ke arahnya. Ia merapatkan resleting jaketnya sebelum berjalan menuju ruangan dimana Daru dirawat. “Kamu pacarnya?” tanya seorang petugas jaga yang datang dari arah berlawanan.  Untuk sesaat Rendra diam dan melonggo. Rendra menggaruk kepalanya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri mungkin saja petugas tersebut bertanya pada orang lain. Sementara sang penjaga membulatkan matanya, menunggu pertanyaannya yang belum ...

Bagian-3: Pernikahan

Kisah Sebelumnya pada  Bagian-2 ____________________________ Rumah Sakit Metropolis, 24:00 WIB Setelah bertanya pada petugas, Rendra dan Tiara menyusuri lorong yang di satu sisinya adalan ruangan-ruangan berlebel. “Kamu yakin kita di arah yang benar?” tanya Tiara sembari menyamakan langkahnya dengan Rendra. Pria yang satu langkah di depannya hanya mengangguk. Namun tiba-tiba Rendra berhenti dan segera meraih tangan Tiara, mengenggamnya, lalu kembali mempercepat langkahnya. “Itu Bunda Yuna!” tunjuk Rendra, setengah berlari keduanya menghampiri Yuna yang terlihat pucat dan sangat khawatir. “Maaf Bund, kami datang kemari secepatnya,” kata Rendra ketika mereka sudah dekat. “Terima kasih sudah datang,” jawab Yuna dengan tatapan kosong. Tiara meraih pundak wanita yang seusia ibunya itu dari samping, menepuknya beberapa kali dengan lembut. “Daru pasti bisa bertahan.” Yuna tak kuasa berkata apapun, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara tangisnya tidak terdengar...

Bagian-2: Bunga-bunga Kersen di hati Salma

Kisah sebelumnya pada  Bagian-1 _______________ Metropolis, Pukul 23:30 WIB             Salma termenung di satu sudut ruangan berteralis besi. Pandangannya bertumpu pada satu titik. Kekosongan. Wajahnya sembab oleh air mata. Ia merasa dirinya seperti tempayan tanpa isi. Anak buah kapal yang dilepar keluar dari perahu atau pengembara yang kehilangan tujuan. Dalam sekejap baktinya sebagai seorang istri dan perasaan sayang pada ibu mertuanya telah membuatnya terperosok dalam ketidakberdayaan dalam memilih. Sekali ia menyeka isaknya yang hilang di telan heningnya malam. Dari arah luar sesekali Salma mendengar tiang yang dipukul. Suara besi yang beradu terdengar nyaring, menyelusup ke seluruh penjuru. Waktu terus bergerak namun bagi Salma waktunya telah berhenti. Salma meringkuk, ia mencoba memejamkan mata, akan tetapi justru awal semua kisah hidupnya bermula menjadi terbayang dengan jelas. Tujuh bulan yang lalu, di Pe...

Bagian-1: Perjodohan

Perkebunan Kersen, pukul 23:00 WIB             Sapran seketika terdiam setelah mendengar berita yang baru saja diterimanya. Pria yang sedianya sangat berharap akan segera mendapat kabar bahwa ia akan menjadi seorang kakek tersebut itu kini tidak mampu berucap sepatah katapun. Ia terus beristigfar dan meruntut satu demi satu perjalanan hidupnya, menduga-duga mungkin ada yang salah sehingga Alloh memberi ujian yang berat padanya. Sekali lagi senyum putrinya bergulir dalam ingatan, membuat pandangan Sapran nanar, air matanya meleleh melewati kerutan di wajahnya yang menahan sedih mendalam. Delapan bulan yang lalu. Salma dengan teliti memeriksa pengemasan sayuran berikut memastikan bahwa  pengepakan telah dilakukan dengan cara yang benar, hal tersebut agar barang yang sampai kepada pembeli tetap dalam kondisi yang segar dan bagus.     “Juragan Sapran beruntung punya putri yang teliti dan cekatan,” c...