Bagian-1: Perjodohan

Perkebunan Kersen, pukul 23:00 WIB
            Sapran seketika terdiam setelah mendengar berita yang baru saja diterimanya. Pria yang sedianya sangat berharap akan segera mendapat kabar bahwa ia akan menjadi seorang kakek tersebut itu kini tidak mampu berucap sepatah katapun. Ia terus beristigfar dan meruntut satu demi satu perjalanan hidupnya, menduga-duga mungkin ada yang salah sehingga Alloh memberi ujian yang berat padanya.
Sekali lagi senyum putrinya bergulir dalam ingatan, membuat pandangan Sapran nanar, air matanya meleleh melewati kerutan di wajahnya yang menahan sedih mendalam.

Delapan bulan yang lalu.
Salma dengan teliti memeriksa pengemasan sayuran berikut memastikan bahwa  pengepakan telah dilakukan dengan cara yang benar, hal tersebut agar barang yang sampai kepada pembeli tetap dalam kondisi yang segar dan bagus.   
 “Juragan Sapran beruntung punya putri yang teliti dan cekatan,” celetuk Heri. Sopir yang hari itu bertugas untuk mengirimkan pesanan ke luar kota.
“Sayangnya sebentar lagi mbak Salma akan dipinang orang,” timpal seorang pekerja yang meletakkan kardus terakhir ke dalam mobil.
“Pak Bimo kok tahu. Saya yang bersangkutan malah tidak merasa,” jawab Salma sambil memberikan nota pengiriman pada Sopir.
“Em, Selalu saja ketinggalan berita terbaru. Semua orang sudah tahu. Sudah viral di antara pekerja kebun mbak,” sahut seorang gadis berseragam pramuka.
“Santi, jangan ikut-ikutan menyebar berita bohong!”
“Tanya saja sama Bapak yang lebih tahu mbak,” seru Santi.
“Tunggu. Jangan pergi!”
“Tidak mau. Aku mau mencari buah kersen,” teriak Santi menjauhi kakaknya. Ia berlari dengan kencang melewati blok paralon hydroponic dan menghilang di balik jajaran pohon sukun, jeruk, sirsak dan kedondong.
Dengan penasaran Salma bergegas pulang untuk menjumpai Bapaknya. Namun saat tiba di halaman depan, langkahnya tertahan oleh kedatangan bude Rumi dengan seorang temannya yang terlihat anggun sekali. Buru-buru Salma menyapa keduanya dan bersalaman sebagai penghormatan seorang yang lebih muda pada orang yang lebih tua.
“Ibu dan Bapakmu ada di rumah?”
“Ada bude. Tapi sebaiknya bude Rumi bertemu dengan ibu dulu saja. Ada beberapa hal yang hendak saya diskusikan dengan Bapak,” terang Salma.
Bude Rumi yang merupakan kakak kandung dari ibunya tersebut setuju dengan anjuran keponakannya. Segera keduanya dipersilahkan masuk untuk berjumpa Nyonya rumah. Sedangkan Salma berlari ke bagian belakang, tempat dimana Bapaknya menyemai bibit.
“Apa maksud Bapak?” sungut Salma.
“Maksud apa?
“Menjodohkanku dengan cara sepihak,” protes Salma, kali ini nadanya lebih tinggi.
“O,, masalah itu, baru rencana saja,” jelas Sapran melirik putrinya.
“Jika hanya rencana, mengapa semua orang di kebun tahu, bahkan si kecil Santi juga tahu.”
“Bukannya kamu sudah paham jika adik bungsumu itu memang terlalu lincah mengetahui berbagai hal.“ Sapran tertawa kecil sambil memindahkan nampan yang berisi bibit. “Apalagi kamu sudah cukup usia untuk berumah tangga. Mau nunggu apa? Sudah menjadi tugas Bapakmu ini untuk mencarikan suami yang tepat untukmu.”
“Menurut Bapak siapa orang itu?” selidik Salma.
“Kamu juga mengenalnya. Itu putranya Kusumo.”
“Putra pak Kusumo?” ulang Salma justru semakin emosional. Sapran hanya mengangguk dan menghindari tatapan Salma yang sama sekali tidak senang.
“Sebelumnya, Bapak harus jawab dengan jujur pertanyaan putrimu ini. Apakah pernikahan ini ada kaitannya dengan hutang pak Kusumo pada Bapak?” tuding Salma
“Jangan berprasangka,”
“Ini ide pak Kusumo khan?” potong Salma
“sebenarnya begini...”
“Beliau sengaja menawarkan putra beliau agar hutangnya dianggap lunas. Benar begitu khan?” kejar Salma tidak membiarkan Bapaknya untuk menyelesaikan kata-katanya.
“Salma, Bapak hanya ingin mencarikan jodoh yang setara denganmu,” kelit Bapak.
“Sebaliknya, justru Bapak membuat putrimu ini tidak ada harganya!” bantah Salma.
“Jangan terbawa emosi. Terkadang sesuatu yang baik itu datangnya dari sesuatu hal yang tidak kita suka.”
“Masalah ini bukan sekedar suka dan tidak suka, pak. Tapi ini masalah harga diri saya sebagai wanita.”
“Harga dirimu yang mana? Yang terlukai itu?” Sapran menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. “Mereka hendak mengambilmu menjadi menantu, bukannya itu niat baik?”
“Yang jelas Bapak terlalu baik. Sehingga banyak orang yang mencoba memanfaatkan kebaikan Bapak. Jika memang seperti yang Bapak katakan bahwa kolega Bapak itu orang baik,  beliau tidak akan melakukan hal rendah semacam ini,” jelas Salma.
“Jadi kamu menolak rencana perjodohan ini?” tanya Sapran.
Salma mendekati Bapaknya, lirih ia berkata, “Hutang piutang harus diselesaikan dengan cara yang telah disepakati ataupun dengan cara yang baik. Perjodohan apalagi pernikahan untuk membebaskan Hutang-Piutang itu menyalahi hukum. Jelas mencederai kesyahan pernikahan itu sendiri yang disebabkan ada pihak-pihak yang terdzolimi.”
“Jika semua merasa ikhlas bagaimana?”
“Saya yang tidak ikhlas pak,” jawab Salma, bibirnya bergetar jelas ia menahan emosinya untuk menjaga sopan santun terhadap Bapaknya.
“Tidak bisakah kamu sedikit mengalah?” tawar Sapran.
“Mengalah. Dimana salah saya pak?” tanya Salma balik
“Salma.”
“Saya tidak merasa bersalah, jika alasannya hingga hari ini saya belum menikah. Justru yang salah bahkan berdosa manakala seseorang berhutang dan tidak bertanggung jawab untuk menyelesaikannya,” tuding Salma.
“Apa kamu tidak paham juga, jika perempuan dengan Pendidikan tinggi apalagi telah sampai usia dewasa akan sulit menemukan pendamping yang sepadan,” jelas Sapran
“Pak, Mengapa saya yang diintimidasi untuk menyelesaikan urusan hutang-piutang orang lain?” tanya Salma lagi. Lurus, ia menatap bapaknya. Namun Sapran tetap sibuk menata bibit yang disemai. “Saya putri Bapak, bukan putri kolega Bapak yang mempunyai kewajiban berbakti pada beliau. Itupun jika perjodohan dengan maksud penghapusan hutang dianggap sebagai cara berbakti seorang anak,” lanjut Salma.
“Bapak hanya ingin melihat kamu Bahagia,” jelas Sapran yang menghentikan pekerjaannya.
“Justru sebaliknya, mengapa Bapak tega mempertaruhkan kebahagian putri Bapak pada orang yang jelas-jelas memanfaatkan kelemahan Bapak?”
“Jadi Bapakmu ini harus bagaimana?” Sapran kini merasa serba salah. Ia membuang pandangannya jauh ke luar, melewati batas rumah kaca yang trasparan.
“Tolak saja rencana pak Kusumo. Apabila beliau bertanya lebih jauh, Bapak bisa katakan bahwa putrimu sudah memiliki calon suami,” jawab Salma.
Kali ini Sapran menatap lekat wajah putrinya. Semua yang dikatakan gadis kesayangannya itu benar adanya. Tentu ia sebagai seorang Bapak tidak akan pernah rela apabila nanti buah hati dan penyejuk pandangannya tersebut akan menderita dalam bahtera pernikahannya.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kasak kusuk membicarakan putrinya yang belum juga menemukan jodoh. Padahal yang sepantaran Salma rata-rata sudah punya anak satu atau dua orang seperti yang selalu istrinya keluhkan di saat mereka hanya berdua.
Sapran tersenyum tipis. Ia jadi malu ternyata pandangannya hanya sampai pucuk-pucuk pelepah kelapa yang berderak-derak dimainkan angin. Harusnya yang disalahkan bukanlah Salma, tapi egonya yang mendambakan memiliki anak yang pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Dengan harapan dengan ilmu itu ia bisa menjaga dirinya. Tapi kini justru ia sebagai Bapak malah menjadikan Pendidikan Tinggi justru membuat putrinya kesulitan bertemu jodoh
Pria paruh baya itu memandang takjub pada putrinya. Meski ada perasaan bersalah menyisip dalam hatinya, dimana ia merasa ceroboh sebagai seorang Bapak. Terlalu naif menyikapi permintaan Kusumo mengenai usul perjodohan. Padahal sejatinya Kusumo tidak lebih dari seorang oportunis. Ia mengambil peluang atas kegundahan hati seorang Bapak terhadap putrinya yang belum kunjung menemukan jodoh. Alih-alih Ia menawarkan putranya, dengan kompensasi seluruh hutangnya dianggap lunas. Padahal putra yang selalu dipujinya tersebut belum pernah pulang sejak ia pergi untuk melanjutkan studinya di salah satu Universitas di Metropolis.
**
Perkebunan Kersen, pukul 23:25 WIB
Sapran masih duduk di ruang tamu. Ia termenung,  masih tidak percaya dengan berita yang diterimanya, terkait dengan keadaan putrinya saat ini. Beberapa kali ia mengusap muka dengan kedua telapak tangannya, berharap yang didengarnya hanya kesalahan semata. Kalaupun benar, ia berharap dalam sekejap semua kerumitan akan segera membaik dengan sendirinya. Sayang itu hanya imajinasinya. Kenyataan yang ada di depan mata tidaklah mudah untuk diselesaikan, apalagi ditebus hanya dengan kata, “Sabar”.

***


Penulis: Wedhya Wardani

Monolog
Ilmu ibarat Cahaya

Tanpa Ilmu banyak hal tidak berarti apapun
Namun dengan Ilmu bahkan yang hina menjadi mulia
Contoh
Buah Kersen/ Kersem/ Seri/Ceri/Talok/Kerukup Siam dulu tidak lebih difungsikan hanya
sebagai pohon peneduh/ perindang oleh kebanyakan orang
selain buahnya yang digemari oleh anak-anak tentunya.

Namun dengan adanya Ilmu pengetahuan ditambah  promosi lewat dunia digital,
buah tersebut tidak lagi dipandang sebelah mata.
Ia sudah naik tangga menjadi buah dengan harga jual yang lumayan tinggi.

***
Terima kasih sudah membaca "Kersen" 
^_^

____________________________
Kisah Selanjutnya pada Bagian-2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-5: Classic Trap

Bagian-4: Ruang Tunggu