Bagian-5: Classic Trap


Kisah sebelumnya pada Bagian-5
____________________________
Rumah Sakit Central Metropolis
            Pagi-pagi Tiara sudah tiba di Rumah Sakit dengan membawa beberapa barang pribadi milik kekasihnya yang menginap di RS untuk menjaga sahabatnya.
            “Aku mau ke toilet, sekalian ke kantin. Kamu ingin kubelikan sesuatu untuk sarapan?” tanya Rendra.
            “Sesuatu yang ringan dan hangat,” jawab Tiara.
            “Baiklah! Kamu disini jaga Daru.”
Tiara tersenyum penuh cinta. Senyumnya terus mengembang sampai Rendra menghilang di tikungan, baru kemudian perhatiannya kembali pada Daru yang masih terbaring sama seperti semalam saat ia pulang.
Apabila mendengar kronologi kejadian dari sopir, Tiara merasa ngeri membayangkan apa yang telah tejadi pada Daru, terlebih melihat kondisinya saat ini. Bagaimanapun ia mengharap agar Daru bisa segera sadar kembali. Tiara menyeka sudut matanya yang berkaca-kaca, lalu menangkupkan kedua tangannya di mulut.  Tiara berbisik, lirih terdengar dari bibirnya, satu doa untuk kesembuhan Daru.

Dua Minggu sebelum Tragedi, pukul 11:00WIB
Dengan menenteng dua kardus makan siang, Tiara menunggu antrian lift. Hari itu ia sengaja mengunjungi Rendra di kantornya. Tiara sudah membayangkan wajah Rendra yang pastinya terkejut, sebab selama ini ia selalu menolak apabila diajak untuk melihat kantor baru kekasihnya.
Setelah bersabar mengantri akhirnya Tiara mendapat lift yang longgar. Ia menekan tombol yang menunjukkan lantai yang dituju. Selanjutnya beberapa detik ke depan, Tiara sudah sampai di lantai yang ia maksud.
Seorang petugas front office menyapanya dengan sopan. Tiara memperkenalkan dirinya dan menyampaikan maksud kunjungannya. Selanjutnya ia diantar ke salah satu ruangan. Ketika Tiara masuk bertepatan saat Rendra dan Daru sedang bersitegang.
“Apa aku menganggu kalian?” sapa Tiara.
“Ya,” teriak Rendra kesal.
“Tidak. Apa kamu membawa sesuatu?” tanya Daru dijawab anggukan. “Masuklah aku sudah lapar,” pinta Daru.
“Kalian membuatku kesal!” keluh Rendra.
“Ayolah! Kita tetap rapat sambil makan. Mana punyaku Ra?” lanjut Daru. Tiara memberikan satu kardus. Daru segera membukanya dan dengan lahap makan, membuat Rendra mendengus.
“Berikan punyaku!” pinta Rendra. Tiara membuka satu kardus paket makan siang yang segera diberikannya pada Rendra.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Hanya suara peralatan makan yang sesekali terdengar. Begitu Daru menyelesaikan makannya.
Rendra kembali bertanya, “Daru! Apa kamu fikir proyek kita ini main-main?”
“Sama sekali tidak,” jawab Daru cepat. “Ra, terima kasih untuk makan siangnya.” Daru mengelap mulutnya dan meneguk air dari botol.
Tiara hanya tersenyum sembari membereskan pembungkus dan peralatan makan agar tidak berserak. Sementara Rendra dengan awas memperhatikan sikap Daru yang sulit serius menurutnya.
“Jadi kamu paham jika kita memerlukan tambahan dana segera.”
“Tunggu satu atau dua minggu lagi.”
“Aishhh…. Mengapa harus menunggu? Bukannya kamu tinggal minta ke Bundamu untuk mengirim dana yang kita perlukan!” kejar Rendra.
“Tidak semudah itu! Kita harus memperlihatkan progress sesuai yang kita janjikan,” terang Daru.
“Justru dengan dana tersebut kita bisa melampaui progress,” lanjut Rendra.
“Mustahil jika Bunda akan memberikannya,” jawab Daru yang sangat mengenal watak sang Bunda, terlebih menyangkut bisnis dan uang.
“Em, klo begitu pinjam dulu pada istrimu. Walau keluarga Salma tidak sekaya keluargamu, setidaknya Bapaknya adalah juragan sayuran yang terpandang di kotanya,” kata Rendra sinis.
“Aku tidak mau menyentuh uangnya!” Daru mengangkat kedua tangannya.
“Why? Bukannya ia istrimu. Pinjam meminjam diantara suami dan istri adalah hal yang wajar. Itu sudah biasa dilakukan oleh pasangan ya khan Ra?” kata Rendra kali ini meminta dukungan karena melihat Daru yang sepertinya tidak akan bergeming dengan keputusannya.
“Meminjam berarti dikembalikan khan,” jawab Tiara lirih.
“Betul sekali!” Rendra mengedipkan mata pada Tiara. “Kamu bisa mengembalikan setelah bundamu mencairkan dana yang dijanjikan pada kita,” lanjut Rendra.
Akan tetapi Daru tetap menolak apa yang disarankan Rendra. Selebihnya Daru semakin terlihat sangat tertekan setelah Rendra menerangkan bahwa apabila pendekatan pada calon patner dari Singapura dengan dilakukannya demo kali ini gagal, maka peluang untuk menjadi mitra akan hilang juga. Sebab mereka akan mencari mitra lain yang lebih compatible.
“Dengar oleh kalian! Justru bila aku menggunakan uang Salma walau itu jumlahnya hanya satu rupiah saja, maka Bundaku akan membatalkan investasinya. Apa kalian mengerti!”
“Apa?” teriak Rendra. Daru membuang muka menghindari tatapan Rendra dan Tiara.
“Hebat sekali istrimu. Hingga ibu mertuanya melindunginya dari putranya sendiri,” celetuk Tiara.
“Maksudnya, Bunda tidak mempercayai Daru?” tanya Rendra, memperjelas apa yang baru dikatakan Tiara.
“Kenyataannya demikian khan,” jawab tiara ambigu.
“Mana mungkin? Buktinya Bunda masih mau mendanai usaha kita,” kelit Daru.
Classic Trap’, jebakan yang dilakukan orang tua atau keluarga agar anggota keluarganya mengikuti apa yang diinginkan,” jelas Tiara.
“Jangan terlalu berlebihan,” kata Daru berusaha menghindar.
“Lihatlah dirimu? Bahkan kamu tidak bisa melakukan apapun yang kamu inginkan dalam pernikahanmu sendiri. Semua terawasi. Sedikit kamu melakukan kesalahan, kamu akan membayar konsekwensinya dengan harga yang lebih mahal. Betul khan?” lanjut Tiara dengan wajah serius.
Penjelasan Tiara membuat Daru merasa tidak senang. 
Sangat jelas! Karena sebenarnya Tiara ingin mengatakan: ‘Mengapa kamu begitu bodoh? Sehingga tidak menyadari telah masuk perangkap yang disiapkan oleh bundamu’.
“Jika demikian tetaplah pinjam dari istrimu!” potong Rendra menengahi.
“Apa?” potong Daru dan Tiara nyaris bersamaan.
Daru merasa jika Rendra sudah putus asa sehingga cara apapun akan ditempuhnya demi tercapainya tujuan.
“Kurasa selama Bunda tidak mengetahui apabila dirimu meminjam dari Salma. Kita aman,” jelas Rendra.
“Maksudmu? Daru harus membuat Salma tutup mulut?” terka Tiara.
“Benar!” jawab Rendra
“Dan meminta uang yang dipinjam dalam bentuk tunai,” lanjut Tiara.
“Tepat,” sahut Rendra.
“Sehingga Bundanya Daru atau pihak manapun tidak bisa mengetahui asal uang tersebut,” terang Tiara dengan antusias.  
“Bravo!” teriak Rendra seraya memeluk Tiara.
“Kalian berdua memang benar-benar gila!” seru Daru seraya bangkit dari tempat duduknya dengan tergesa, membuat kursinya terpental ke belakang.
Rendra dan Tiara terkejut atas reaksi Daru. Sesaat mereka saling pandang dan khawatir apabila Daru akan marah pada mereka berdua, yang berujung rencana besar merekapun akan ikut terkubur.
“Aku akan melakukannya!” Janji Daru dengan penuh keyakinan. Membuat mata Rendra dan Tiara berbinar.
**
Penulis: Wedhya Wardani

Monolog
SIMALAKAMA
Semua urusan dunia itu menyusahkan, 
Sebab umumnya ada kepentingan yang menyusupinya,
terlebih apabila kita pada kondisi yang tidak menguntungkan.
Ada saja orang yang berusaha memanfaatkannya
Karenanya jangan sekali-pun menggantungkan sesuatu selain dari
Ya ROHMAN – Ya ROHIM
****
Terima Kasih telah membaca “KERSEN”
^_^
______________________
Kisah selanjutnya pada ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-4: Ruang Tunggu

Bagian-1: Perjodohan